Brain And Spine

Bedah epilepsi

Bedah Epilepsi, Manfaat dan Risikonya Pada Pasien

Epilepsi adalah kondisi medis dengan kelainan pada sistem saraf pusat yang membuat aktivitas otak jadi abnormal. Akibatnya terjadi kejang atau dalam satu periode munculnya perilaku tidak lazim, sensasi dan bahkan kadang-kadang sampai hilang kesadaran.

Bedah Epilepsi di Jakarta – RSU Bunda Jakarta

Tak seperti anggapan masa lalu bahwa epilesi adalah penyakit turunan, berdasarkan penelitian terbaru epilepsi bisa diidap oleh siapapun.

Biasanya penanganan epilepsi tahap pertama adalah dengan penggunaan obat-obatan. Namun tak selamanya demikian. Ada kalanya pada satu titik pengobatan saja tak lagi cukup. Oleh karena itu tindakan medis seperti pembedahan mau tak mau harus dilakukan.

“Pembedahan biasanya dilakukan kala pengobatan oral tak bisa dilakukan. Dengan pembedahan serangan kejang lebih bisa dikendalikan,” kata Dr. Wawan. “Setidaknya jika sebelumnya pengobatan oral tak lagi bisa membantu mengendalikan kejang, setelah pembedahan, obat digunakan lagi untuk mengendalikan serangan kejang.”

Ada beberapa jenis pembedahan untuk epilepsi yang berbeda. Salah satu jenis pembedahan adalah dengan pengangkatan sebagian kecil dan khusus dari otak yang diduga sebagai penyebab kejang. Bentuk lain dari pembedahan, adalah pemisahan bagian otak sebagai titik penyebab kejang.

Kapan Seseorang Menjalani Bedah Epilepsi?

Untuk sebagian orang, pembedahan bisa menghentikan kejang yang mereka alami. Pembedahan ini mungkin dipertimbangkan jika obat anti-epilepsi (OAE) tidak menghentikan atau secara signifikan tidak mengurangi angka kejadian kejang yang dialami.

Pembedahan bisa dilakukan baik pada orang dewasa maupun pada anak-anak. Tindakan ini bisa dipertimbangkan jika :

  • Telah mencoba berbagai obat-obatan epilepsi dan tak ada satupun yang bisa secara signifikan mengurangi kejang-kejang.
  • Penyebab epilepsi bisa ditemukan secara spesifik ada di salah satu area di otak yang bisa dijangkau.
  • Apakah Anda cocok untuk pembedahan atau tidak, Anda harus mendiskusikannya dulu dengan dokter atau ahli saraf. Jika memenuhi kriteria dan bisa dipertimbangkan untuk pembedahan, Anda tetap harus menjalani berbagai pemeriksaan sebelumnya.

Salah satu tes yang terkadang digunakan untuk membantu mendiagnosis epilepsi adalah pemindaian otak. Anda mungkin akan diminta melakukan  MRI (magnetic resonance imaging) atau pemindaian CT-Scan (computerized tomography). Meskipun menggunakan teknologi yang berbeda, keduanya menghasilkan gambar otak yang mungkin menunjukkan penyebab spesifik epilepsi yang Anda alami.

Beberapa penyebab epilepsi yang bisa diketahui, antara lain jaringan parut pada otak, malformasi perkembangan otak (gangguan pembentukan otak saat masih berada dalam kandungan). Dapat juga kerusakan otak akibat cedera kepala. Infeksi seperti meningitis juga bisa menyebabkan epilepsi. Jika penyebab spesifik ditemukan, itu disebut ‘lesi epileptogenik’. Lesi epileptogenik dapat berbeda pada setiap orang.

Tes Pra-Bedah untuk Epilepsi

Jika Anda dirujuk untuk operasi, Anda mungkin akan banyak melakukan tes pra-bedah yang berbeda-beda. Mencakup pemindaian MRI lebih lanjut dan EEG (electroencephalogram). Jenis pemindaian lain juga dapat dilakukan, berupa zat kimia yang disuntikkan ke dalam tubuh untuk dapat menunjukkan informasi terperinci tentang di mana kejang dimulai di otak.

Memori dan tes psikologis juga digunakan untuk melihat bagaimana ingatan dan gaya hidup Anda mungkin terpengaruh setelah operasi. Jenis-jenis tes ini juga membantu para dokter untuk melihat bagaimana Anda menghadapi dampak dari jenis operasi ini.

Menjalani pembedahan di otak adalah keputusan besar dan mungkin banyak pertanyaan atau masalah yang ingin Anda diskusikan sebelum dapat mengambil keputusan. Para dokter akan terbiasa dengan hal ini karena ini adalah bagian penting dari keputusan dan tindakan operasi.

Untuk memberi gambaran lengkap ketika memutuskan untuk menjalani operasi, dokter akan menjelaskan potensi risiko jenis operasi yang akan dilakukan. Meskipun dokter dapat memberi informasi dan saran, keputusan akhir ada di tangan Anda.

Diskusikan secara mendalam dengan dokter tentang segala hal terkait tindakan ini. Termasuk risikonya, misalnya bagaimana tanggapan Anda tentang anestesi dan kemungkinan komplikasi yang bisa terjadi.

Pasca Bedah Epilepsi

Segera setelah operasi, dokter akan memantau pemulihan Anda. Untuk beberapa hari pertama, Anda mungkin merasa sangat lelah dan perlu tidur, karena perlu waktu agar anestesi benar-benar hilang.

Bagi sebagian orang “operasi yang berhasil” dapat berarti tanpa kejang sepenuhnya, sedangkan bagi sebagian orang lagi pasca-operasi dapat berarti berkurangnya jumlah atau keparahan kejang. Biasanya dibutuhkan dua tahun setelah operasi untuk menilai berhasil tidaknya tindakan bedah epilepsi yang sudah Anda jalani.

Sekitar 70 persen orang (7 dari 10 orang) yang menjalani bedah operasi lobus temporal menemukan bahwa operasi membuat mereka bebas kejang, dan untuk 20 persen, lebih lanjut (1 dari 5 orang) kejang mereka berkurang.

Sekitar 50 persen orang (setengah) yang menjalani operasi lobus temporal masih bebas kejang 10 tahun setelah operasi, tetapi sebagian besar dari orang-orang ini masih akan minum obat oral untuk beberapa waktu. Untuk hal ini Anda bisa konsultasi lebih lanjut mengenai kapan waktu terbaik untuk berhenti dari pengobatan.

Bunda Brain And Spine Center

Bunda Brain and Spine Center merupakan klinik yang memfokuskan diri pada bidang bedah saraf di Indonesia. Hadir dalam RSU Bunda Jakarta, Bunda Neuro Center membantu masyarakat yang membutuhkan layanan bedah saraf, termasuk epilepsi, kelainan otak lainnya hingga masalah saraf tulang belakang.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *